Dua WN China Kedapatan Simpan Ratusan Sisik Penyu Ilegal di Makassar

Jatanras Polrestabes Makassar yang dipimpin Kanit Jatanras AKP Ivan Wahyudi berhasil menangkap pelaku sindikat penjualan satwa yang di lindungi berupa sisik, cangkang atau kulit penyu, Rabu 31 Januari 2018.

Jatanras Polrestabes Makassar yang dipimpin Kanit Jatanras AKP Ivan Wahyudi berhasil menangkap pelaku sindikat penjualan satwa yang di lindungi berupa sisik, cangkang atau kulit penyu, Rabu 31 Januari 2018.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Jatanras Polrestabes Makassar yang dipimpin Kanit Jatanras AKP Ivan Wahyudi berhasil menangkap pelaku sindikat penjualan satwa yang di lindungi berupa sisik, cangkang atau kulit penyu, Rabu 31 Januari 2018.

Kasubbag Humas Polrestabes Makassar Kompol Laode Idris mengatakan tersangka yang berjumlah 2 (dua) Pria tersebut masing – masing inisial CH alias Aii (25) alamat Jalan Barukang dan inisial ZH alias Acong (31) alamat Jalan Barukang Makassar, keduanya merupakan Warga Negara Cina.

Jatanras Polrestabes Makassar berhasil mengamankan kurang lebih 200 kg sisik penyu berbagai ukuran dari keterangan tersangka mereka dapatkan dari Sorong Papua dengan harga RP. 180.000.000,- sebanyak 10 Colli atau Dos, kemudian dikirim lewat Via Kapal Laut dari pelabuhan Sorong menuju pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Terang Kompol Laode Idris.

Tidak hanya sampai disitu kedua tersangka yang merupakan warga Cina tersebut juga mengatakan barang yang sudah terkirim ke Makassar langsung menuju ke Jalan Sunu komp. Unhas Makassar, rencananya barang tersebut akan dikirim / dijual lagi ke Negera Tiongkok Cina untuk di buat menjadi Souvenir, Pernik, Accesoris dan di jual dengan harga perkilo gram bervariatif RP. 700.000 – RP. 1000.000, tergantung jenis kwalitas dan ukurannya, Jelasnya.

Penangkapan yang dilakukan Jatanras Polrestabes Makassar berawal dari laporan warga setempat yang curiga akan aktifitas kedua warga Negara Cina tersebut dan di rumah pelaku ada barang mencurigakan.

Kedua pelaku melanggar pasal 40 UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem kemudian PP no 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. (**)