Pencabutan Izin Abu Tours Bagai Makan Buah Simalakama

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Bagai Makan Buah Simalakama.

Hal inilah yang tengah dirasakan puluhan ribu jamaah PT Amanah Bersama Ummat (Abu) Tours yang tak kunjung diberangkatkan.

Pasca pencabutan ijin operasional oleh Kementerian Agama, 86.720 jamaah yang tersebar di 15 kota seluruh Indonesia harus menelan pil pahit dengan situasi yang tengah menimpa Abu Tours.

Itu artinya, Abu Tours tidak lagi boleh melakukan pendaftaran baru untuk melakukan pemberangkatan jamaah umrah ke Saudi Arabia.

Kementerian Agama Sulawesi Selatan berdalih inilah jalan terbaik dan menjadi solusi mencegah timbulnya korban baru.

Opsi lain yang ditawarkan adalah, Abu Tours harus menggandeng provider lain untuk memberangkatkan jamaah namun tidak lagi menggunakan embel-embel Abu Tours.

” Wajib hukumnya diberangkatkan, mengembalikan uang jamaah, atau melimpahkan jamaah ke Travel lain tanpa ada pungutan biaya lagi,” tegas Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulsel, Abdul Wahid Thahir, Rabu 28 Maret 2018.

Jamaah yang diberangkatkan tersebut, lanjut Abdul Wahid, tidak boleh lagi melakukan penambahan uang.

Akan tetapi opsi ini sepertinya tak begitu saja ditelan mentah-mentah pihak Abu Tours.

Berat itu pasti, namun segala usaha dan upaya untuk memberangkatkan jemaah tetap diupayakan Abu Tours termaksud menggandeng travel lain dengan membebankan uang sebesar Rp15 juta.

Rizal Rahman Direktur Operasional Abu Tour menambahkan, saat ini pihaknya tengah mempersiapkan keberangkatan bagi jamaah yang memilih opsi berangkat dengan tambahan biaya.

” Pihak manajamenen trus berupaya memberangkatkan jamaah yang memilih opsi. Hari ini pun sekitar 300 orang kami siap berangkatkan, tanggal 29 Maret sebanyak 437 dan tanggal 31 Maret 371 orang,” jelas Rizal.

Rizal menyebut saat ini manajemen tengah menggandeng tiga vendor yang bersedia membantu memberangkatkan, termaksud melakukan pembayaran ke maskapai dan hotel.

” Kita masih berupaya mencari travel yang bisa memberangkatkan jemaah hanya dengan biaya Rp15juta, “tutupnya.

Lalu bagaimanakan nasib jemaah yang tak menyanggupi pembayaran baru?.

Santi misalnya, salah satu korban dari ribuan jamaah Abu Tours di Sulsel yang menuntut kejelasan ini memilih mengurut dada dan sabar menanti waktu keberangkatan tinimbang melakukan pembayaran baru.

Pertanyaan Santi simple, kepada siapa ia meminta pertanggung jawaban, dan kemanakah dana ummat yang disebut-sebut mencapai Rp 1,4 Triliun.

” Kemana kami harus mengadu, terus nasib kami bagaimana kalau di Kemenag pun kami tidak memberikan solusi,” ujar Santi.

Ironi usai penetapan CEO Abu Tours sebagai tersangka dan menyita sejumlah aset, nilainya pun tak mampu menutupi dana untuk memberangkatkan mereka. (**)