Sebelum Ajal Menjemput, Ainul Ingin Taklukkan Tiga Gunung Setelah Itu Menikah

Foto semasa hidup korban pendaki Gunung Rinjani, Moch Ainul Taksim (25)

Foto semasa hidup korban pendaki Gunung Rinjani, Moch Ainul Taksim (25)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com  – Lelaki kelahiran Makassar, 6 September 1992 itu, dikabarkan meninggal di Gunung Rinjani, NTB lantaran dihantam batu akibat longsor pasca gempa berkekuatan 6,4 SR. Ayah Ainul, sungguh tidak percaya. Dihadapan beberapa pewarta yang menyambangi kediamannya di Perumahan Bumi Sudiang Raya, Kelurahan Laikang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, dirinya mencoba menahan air matanya.

Dikisahkannya, anaknya yang habis operasi pasca cedera dibagian tangan tersebut mengaku belum ingin dinikahkan sebelum memenuhi cita-citanya. Tidak muluk-muluk, Ainul hanya ingin mendaki tiga gunung di Indonesia; Gunung Rinjani, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru.

“Saya mau nikahkan, tapi dia bilang jangan dulu. Masih ada saya punya cita-cita belum terpenuhi,” ujarnya menirukan kalimat anaknya, “Yah, mendaki ini. Mendaki Gunung Rinjani, Bromo sama Semeru,”

Baca Juga:

    Senin, 30 Juli 2018, dinding rumah Amrullah cukup cerah dengan warna ungu muda, ungu tua, dan hijau muda. Namun, raut yang ruap di wajahnya rupanya tidak secerah itu. Dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca menjawab pertanyaan pewarta, dirinya menceritakan kebiasaan anaknya yang memang gemar berpetualang di alam bebas.

    “Dia bukan anak mapala. Tapi temannya banyak anak mapala. Sekadar hobi. Kalau di Sulawesi Selatan, semua gunung sudah dia daki, bahkan ada yang dua kali atau tiga kali. Kalau tidak ke gunung dia ke laut,”

    Ingatannya kembali ke hari kemarin, bagaimana duka itu datang dan harus diterimanya. Tidak disangka, gempa yang terjadi di pulau bagian selatan Sulawesi tersebut harus menjadi sebab akhir anaknya menghembuskan napas.

    Sebelum salat dhuhur, seorang rekan Ainul datang ke rumahnya memberi kabar dan meminta Amrullah untuk bersabar dan berdoa.

    “Temannya datang, dia bilang ‘Ba’ba, sabarki’ dan berdoaki karena Ainul terjebak di atas, susah turun karena longsor’, terus saya tanya terjebak bagaimana? Dia cuma bilang berdoa saja. Tapi, seperti ada yang disembunyikannya,” ujarnya dengan dialek khas Makassar.

    Mendengar hal itu, dirinya hanya berpesan agar dikabari apabila ada perkembangan soal anaknya. Pasca dhuhur, dirinya mendapatkan kabar bahwa anaknya sudah turun dan tak ada lagi perasaan khawatir. Namun, firasat buruk itu muncul saat dirinya melaksanakan salat ashar. Ketika sujud, dirinya melihat bayangan wajah anaknya di sajadah.

    “Sementara sujud itu seperti di sajadah ada wajah anak saya terbayang. Saya pulang, anak saya yang bungsu itu nangis, saya tanya kenapa nangis? Dia bilang tidak adami kakakku. Sudah meninggal,” sambungnya, seraya mencoba menahan air mata dan melihat wajah anaknya di dalam pigura sedang menggenakan toga.

    Dirinya mencoba menepis hal tersebut. Sebagai orang tua, dirinya selalu berharap yang terbaik bagi anaknya. Bahkan, banyaknya foto dan berita yang beredar dianggapnya sebagai hoaks ataupun kerjaan orang yamg iseng belaka.

    Tidak ada yang bisa menolak maut. Kepastian itu semakin jelas ketika Saddam, kawan Ainul memastikan hal tersebut. Dirinya bahkan sekali lagi mencoba menepis kenyataan, sebelum akhirnya merelakan dirinya percaya kepada takdir dan merelakan anak ke empatnya tersebut.

    “Tapi saya belum yakin, karena kalau anak saya cuma kena batu kepalanya, paling cuma pingsang. Tapi belakangan berkembalah berita dan muncul fotonya sudah dibungkus. Matanya memar kena batu dibagian kepala, pecah.”

    Alumni Akademi Keperawatan Yayasan Pendidikan Makassar tersebut berangkat ke Gunung Rinjani pada Rabu, 25 Juli 2018 lalu bersama 8 orang rekannya. Pada Minggu pagi, 29 Juli 2018, gempa bumi meluluhlantahkan sebagian Pula Lombok. Sedikitnya, 17 orang dikabarkan meninggal dunia, termasuk Moch Ainul Taksim.

    Orang tua korban pendaki Gunung Rinjani, Moch Ainul Taksim (25), Anrullah

    Orang tua korban pendaki Gunung Rinjani, Moch Ainul Taksim (25), Anrullah

    Saat ini, proses evakuasi mayatnya masih berlangsung. Menurut Amrullah, sesuai data yang diberikan seorang rekannya di Nusa Tenggara Barat di bagian Kehutanan, bahwa masyarakat setempat serta Basarnas membuat jalur sendiri untuk mengevakuasi jenazah anaknya.

    “Saya berharap segera dipulangkan,” harapnya, “Awalnya, saya niatkan untuk dimakamkan di perkuburan umum, tapi ada permintaan dari kerabat untuk dimakamkan di perkuburan keluarga saja.”(**)