Sandiaga Uno: Pedagang Pasar Traditional Harus Disejahterakan

Sandiaga Salahuddin Uno berinteraksi dengan pedagang dan penjual di Pasar Terong Makassar, Minggu, 19 Agustus 2018.

Sandiaga Salahuddin Uno berinteraksi dengan pedagang dan penjual di Pasar Terong Makassar, Minggu, 19 Agustus 2018.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Bakal Calon Wakil Presiden Indonesia, Sandiaga Salahuddin Uno berkunjung ke Makassar, Minggu, 19 Agustus 2018.

Seperti kunjungannya ke beberapa daerah, Sandiaga Uno, tak lupa menyambangi pasar tradisional.

Di Kota Angin Mammiri tersebut, pasangan Prabowo Subianto tersebut berinteraksi dengan para pedagang dan pembeli di Pasar Terong Makassar.

Kedatangan Sandiaga Uno menyita perhatian, terlebih ibu-ibu yang menggandrungi paras suami Nur Asia Sandiaga tersebut.

Salah satu pedagang dan juga koordinator pedagang Pas Terong, Hj Sri (48), yang kerap berada di samping Sandiaga Uno mengakui sangat mendukung langkah yang diambil Sandiaga.

“Saya mendukung Sandi jadi cawapres, dia ulet, dan akan berpihak ke pedagang,” akunya.

Sementara itu, Sandiaga Uno yang berinteraksi langsung dengan pedagang di Pasar Terong mengungkapkan, alasan mengapa dirinya menyasar pasar-pasar tradisional dan ibu-ibu.

Menurutnya, 70 persen distribusi bahan makanan dan bahan pokok masih berasal dari pasal tradisional.

“Pasar tradisional butuh perhatian besar dari pemerintah dan dari dunia usaha. Agar masyarakat sekitar disejahterakan, ” ujarnya.

Dari kunjungannya, dirinya menemukan ada kenaikan harga bahan pangan, apalagi menjelang Idul Adha. Dirinya berharap, harga bahan pokok bisa dikendalikan, agar para ibu-ibu yang belanja tidak mengeluhkan adanya kenaikan harga bahan pokok.

“Itu juga yang menjadi fokus kita ke depan, bagaimana mengendalikan harga bahan pokok, serta segi pengelolaan pasar tradisional harus lebih berpihak ke ekonomi rakyat. Juga kita akan hadirkan sistem yang lebih kekinian, sistem pop-up,” sambungnya.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut menambahkan, bahwa pasar tradisional tidak terlepas dari peranan ibu-ibu. Sayangnya, acapkali suara maupun aspirasi ibu-ibu belum terpresentasikan di kalangan elite politik. (**)