Sebelum Tinggalkan Jabatan, Ini Catatan Mardi Rukmianto

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Selatan, Brigjen Pol Mardi Rukmianto. (foto: hardiansyah)

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Selatan, Brigjen Pol Mardi Rukmianto. (foto: hardiansyah)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Peredaran narkotika di Sulawesi Selatan semakin merajalela. Penegakan hukum di Sulawesi Selatan seolah kewalahan memutus dan mengungkap jaringan peredaran narkotika.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Selatan, Brigjen Pol Mardi Rukmianto, menyebut bahwa penegakan hukum juga harus dibarengi dengan upaya pencegahan .

“Agar masyarakat berani menolak dan berani mengatakan ‘no drugs’ dan tidak menyalahgunakan narkotika, dan berani berpartisipasi dengan membentuk pegiat-pegiat anti narkotika di wilayahnya masing-masing,” ungkap Mardi Rukmianto pasca pemusnahan barang bukti sabu-sabu di Kantor BNNP Sulsel, Jalan Manunggal 22, Kota Makassar, Senin, 27 Agustus 2018.

Mardi berpendapat, bahwa selain itu, untuk para pecandu agar berani dan mau mendatangi panti-panti dan lembaga pelayanan rehabilitasi yang ada.

“Karena sering saya melakukan sosialisasi bahwa penegakan hukum dibandingkan dengan penyalahgunaan narkotika itu berbanding terbalik, kelipatan penyalahgunaan narkotika itu kalian, sedangkan penegakan hukum deret tambah. Kita akan ketinggalan, karena modus operandi mereka selalu berubah-ubah,” jelasnya.

Modus operandi yang pernah didapatkannya, sambung Mardi, bahwa di Pare-pare anak di bawah umur pun sudah dijadikan perantara untuk mengantarkan narkotika, tanpa sepengetahuan si anak tersebut.

“Kita harus masuk ke pencegahan, dan menggiatkan para pegiat narkotika, kita tahu Sulsel minim adanya BNNK yang mendekati masyarakat penyalahguna. Oleh karena itu diperlukan pojok-pojok konseling,” sambungnya.

Dirinya yang sebentar lagi mengakhiri masa jabatannya, memberi catatan bahwa, daerah yang dikenal sebagai ‘segitiga emas’, Kabupaten Sidrap, Kabupaten Pinrang, dan Kota Pare-pare masih menjadi target utama pemberantasan narkotika.

“Ini akan saya sampaikan ke kepala pejabat yang baru untuk ditindaklanjuti, tiga daerah ini menjadi penyebab utama rusuhnya peredaran narkoba di Sulsel,” tambahnya.

Diklaimnya, selama dirinya menjabat sebagai Kepala BNNP Sulsel, angka pemberantasan narkotika meningkat, angka partisipasi masyarakat untuk mencegah meningkat dan jumlah pegiat anti narkotika meningkat, serta angka rehabilitasi untuk tiga daerah semakin meningkat pula. (**)