P2TP2A: Ada Bekas Luka di Tubuh Korban, Itu Penganiayaan!

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Wirdhanto Hadicaksono

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Wirdhanto Hadicaksono.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com  –  Pihak Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Makassar melaporkan tindakan dugaan penganiayaan dan penelantaran anak di bawah umur di Polrestabes Makassar, Senin, 17 September 2018.

Melalui Sekertaris P2TP2A Makassar, Hapidah Djelantek, menyebutkan bahwa, selain melaporkan tindakan yang menimpa tiga anak di bawah umur, A (12), F (6), dan D (2), juga untuk menjaga keamanan anak tersebut.

“Juga untuk antisipasi jangan sampai ada orang-orang yang diutus oleh pelaku untuk datang ke P2TP2A dan Rumah Aman,” ujarnya.

Hal itu dimaksudkan, mengingat pelaku, M (29), yang sebelumnya pernah melakukan hal yang sama pada korban yang sama pada 2017 lalu mengetahui keberadaan Rumah Aman.

Sebagaimana informasi yang didapat, bahwa sudah tiga hari para korban disekap di dalam ruko berlantai 3 milik pelaku. Sampai saat ini, pelaku belim diamankan, dan satu lagi korban, A belum diketahui keberadaannya pasca melarikan diri dari ruko tersebut.

Ditambahkannya, dugaan penganiayaan tersebut diperkuat dengan adanya banyak bekas luka di tubuh kedua korban. Karena sebelumnya, Hapidah Djelantak tahu persis kondisi anak tersebut, lantaran pada kasus sebelumnya, pihaknya juga yang menanganinya.

“Seteah kami lihat tubuhnya semalam tidak sama dengan kemarin. Di tangannya ada bekas rokok, ada juga di kepala bekas pemukulan, juga ada di punggung dan kaki F, untuk D kami melihat di bokongnya biru,” sambungnya.

Sementara pihak kepolisian yang mendapatkan informasi tersebut masih ingin mengumpulkan bukti-bukti kuat terkait hal tersebut. Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Wirdhanto Hadicaksono menyebut akan menindaklanjuti laporan tersebut.

“Tentunya kita akan pastikan lagi dari alat bukti karena kami di sini baru menerima penyampaian dari P2TP2A,” ujarnya.

Wirdhanto menambahkan, apabila terbukti, maka pihaknya akan melakukan langkah-langkah hukum terkait kejadian tersebut. Selain itu, pihaknya juga tentu akan melakukan oencarian terhadap salah satu korban yang keberadaannya masih belum diketahui.