Meilania, Pelaku Penyekapan Bocah di Makassar di Mata Tetangga dan Pendeta

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Meilania Detaly Da Silva (31), orang tua asuh dari ketiga anak yang menjadi korban penyekapan dan penganiayaan di Makassar dikenal tertutup. Dari penuturan Nuraini Daeng Sungguh, selama menghuni ruko di Jalan Mira Seruni FF tersebut, Mei, sangat jarang berinteraksi dengan warga sekitar.

“Dia orangnya tertutup,” ujar Nuraini, yang juga merupakan Ketua RT 5 RW 3, Kelurahan Pandang, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Senin, 17 September 2018.

Bahkan, ketiga anak asuhnya, A (12), F (6), dan D (2), sangat jarang berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Untuk bermain pun, anak tersebut jarang keluar rumah.

“Kita tahunya anak itu keluar hanya bersama mamanya. Ruko ini terbuka kalau orangnya mau keluar,” sambung Nuraeni.

Nuraini menjelaskan, meski anak tersebut memanggil “mama” ke Mei, tapi Mei bukanlah ibu kandung dari ketiga anak tersebut.

Nuraeni mengungkapkan bahwa, dugaan penyiksaan tersebut memang benar adanya. Dirinya acap kali melihat secara langsung bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan oleh Mei terhadap anak-anak tersebut. Namun, dirinya beserta masyarakat sekitar enggan melaporkan hal tersebut ke pihak yang berwajib lantaran mengaku tidak memiliki bukti yang kuat.

Puncaknya, terbongkar ketika ketiga anak melarikan diri dari ruko berlantai 3 tiga tersebut dan ditemukan oleh warga. Nuraeni yang menemukan si F berlari pun mengamankannya dan menanyainya terkait banyaknya bekas luka di tubuhnya.

“Tadi saya tanya sama securiti di sini, kan ada bekas rokok, kenapa bisa begini. Ini dibakar rokok sama mama. Saya tanya lagi, mamanya merokok? Dia bilang tidak. Mamanya bakar rokok untuk hukum adek, kalau sudah hukum adek mamanya matikan rokok,” ungkap Nuraeni seraya mengulang apa yang dikatakan F kepadanya.

Ditambahkan Nuraeni, bahwa anak tersebut berhasil melarikan diri dari ruko tersebut berkat upaya dari A, yang membuka pintu ruko dengan menggunkan besi. Besi tersebut, masih dari penuturan Nuraeni, juga acap digunakan untuk memukul anak tersebut.

“Saya juga tanya, kakak lari pakai apa? Kakak keluar pakai besi yang biasa mama pakai pukul adek,” tambah Nuraeni mencerutakan perkataan anak tersebut.

Terpisah, pendeta Gereja Jemaat Best Jalan Latimojong, Jemmy, menjelaskan Mei terdaftar sebagai jemaat dan rajin beribadah. Dia tidak lupa membawa ketiga anak asuhnya tersebut.

“Kadang dia ibadah sore, bahkan dia sering bawa anaknya ibadah, karena anaknya ini masuk Super Kids, kelas anak, sekolah minggu. Kalau dia pergi dia bawa,” ujar Jemmy.

Terkait hubungan antara ketiga anak dan Mei tersebut, Jemmy enggan berkomentar lebih jauh. Sebab, dirinya tidak mengetahui seluk-beluknya. Bahkan, terkait siapa suami Mei pun enggang berkomentar.

Namun, Jemmy cuma menjelaskan bahwa pernah suatu waltu Mei melakukan konseling terhadapanya perihal hubungan asmaranya dengan seorang lelaki.

“Pernah saya layani dia, itu masalah percintaannya, dengan pacarnya. Dia sama pacarnya itu break, jadi dia minta tolong untuk dibicarakan. Kita sebagai pelayanan rohani, kita memberikan wejangan-wejangan kepada mereka agar tidak terulang,” jelas Jemmy.

Saat ini, kasus penyekapan dan penyiksaan yang terjadi telah ditangani oleh pihak kepolisian dan Mei telah diamankan dan dimintai keterangannya. Untuk ke tiga anak asuh Mei, A, F, dan D dalam perlindungan Satgas PPA Kementerian PP dan P2TP2A Kota Makassar. (**)