Polisi Akan Lakukan Tes DNA untuk Pastikan Hubungan Antara Korban dan Pelaku

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Wirdhanto Hadicaksono

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Wirdhanto Hadicaksono.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com  –  Meilania Detaly da Silva alias Mei (31) dihadapan penyidik Satreskrim Polrestabes Makassar mengaku bahwa 2 dari 3 anak yang disekap dan dianiaya tersebut adalah anak kandungnya, Selasa, 18 September 2018.

“Namun demikian, kita akan menguji dan melakukan pemeriksaan secara forensik tes DNA untuk memastikan status anak ini,” jelas Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Wirdhanto Hadicaksono.

Adalah A (12) dan F (6), yang diakui sebagai anak kandung Mei. Sementara D (2) bukanlah anak kandungnya. Pihak Satreskrim Polrestabes Makassar sendiri masih akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait orang tua D yang diakui Mei bukanlah anak kandungnya.

Dari informasi yang dihimpun, bahwa Mei belum pernah menikah sebelumnya. Namun, ada dugaan bahwa Mei pernah menikah tidak secara hukum yang berlaku.

“Kami juga akan menghubungi pihak keluarganya dari Papua untuk bisa membawakan dokumen-dokumen terkaitan anak ini,” tambah Wirdhanto.

Ditambahkan Wirdhanto, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, pelaku mengakui bahwa sudah sejak 2011 mereka tinggal di Makassar. Sejak itu pula, tindakan penganiayaan tersebut berlangsung kepada anak-anak yang menjadi korban tersebut.

“Itu menurut pengakuan korban,” sambung Wirdhanto.

Namun, pihaknya masih akan terus menyelidiki lebih lanjut dugaan tersebut. Selain itu, Wirdhanto menyebutkan akan menggunakan Psikiater untuk memeriksa kondisi kejiwaan dari Mei.

Sebagaimana diketahui, Mei telah 2 kali melakukan hal serupa terhadap ke tiga anak tersebut. Kasus tersebut terjadi pada 2017 lalu di Jalan Veteran Selatan, tapi kasus tersebut tidak berlanjut ke meja hijau lantaran dilakukan mediasi.

Kasus tersebut kembali terulang pada Senin, 17 Septembwr 2018, dan terungkap ketika ke tiga anak tersebuf berhasil melarikam diri dari ruko tempatnya disekap di Jalan Mirah Seruni, Makassar. Dengan kejadian tersebut, Mei pun telah ditetapkan sebagai tersangka dan dikenakan pasal pasal 77B juncto pasal 76B, pasal 80 ayat 1 juncto pasal 76C Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang perlindungan anak dan pasal 44 ayat 1 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang PKDRT, dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun penjara.

Sementara, ke tiga anak, A (12), F (6), dan D (2) kini berada dalam penanganan P2TP2A Kota Makassar dan Satgas PPA Kementerian PP.