Kembali Sekolah, Begini Perasaan Anak yang Disekap Orang Tua Asuhnya

Dua anak yang jadi korban penyekapan dan penyiksaan oleh orang tua asuhnga beberapa waktu lalu, kini telah kembali merasakan hangatnya bangku sekolah, Rabu, 19 September 2018. Adalah A (12) yang kembali duduk di bangku kelas 5 SD, pasca putus sekolah selama 2 tahun, dan F (6), yang kembali ke kelas 1 SD.

Dua anak yang jadi korban penyekapan dan penyiksaan oleh orang tua asuhnga beberapa waktu lalu, kini telah kembali merasakan hangatnya bangku sekolah, Rabu, 19 September 2018. Adalah A (12) yang kembali duduk di bangku kelas 5 SD, pasca putus sekolah selama 2 tahun, dan F (6), yang kembali ke kelas 1 SD.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com  –  Dua anak yang jadi korban penyekapan dan penyiksaan oleh orang tua asuhnga beberapa waktu lalu, kini telah kembali merasakan hangatnya bangku sekolah, Rabu, 19 September 2018. Adalah A (12) yang kembali duduk di bangku kelas 5 SD, pasca putus sekolah selama 2 tahun, dan F (6), yang kembali ke kelas 1 SD.

Hal tersebut diungkapkan oleh pendampingnya dari Satgas PPA Kementerian PP, Ardiand Arnold kepada Djournalist.com. Menurutnya, bahwa kedua anak tersebut kembali menemukan dunianya.

“Mereka sudah kembali ke sekolah. Mereka bahagia, kembali mememukan dunianya,” ujarnya saat dihubungi, Rabu, 19 September 2018.

Baca Juga:

    Pihak P2TP2A Kota Makassar bersama Dinas Pendidikan Kota Makassar, telah mengantar A dan F ke sekolahnya. Sementara, untuk adik bungsunya, D (2), masih dalam pengasuhan pihak P2TP2A Makassar.

    Sebagaimana diketahui, bahwa ketiganya disekap oleh ibu asuhnya di sebuah ruko di Jalan Mira Seruni selama beberapa hari. Mereka berhasil kabur dari ruko tersebut dengan heroik, ketika A, mengcungkil pintu ruko yang terkunci tersebut dengan besi.

    Saat ini, pihak kepolisian telah menetapakan ibu asuh mereka, MM (31) sebagai tersangka. Pihak kepolisian pun mengenakan pasal pasal 77B juncto pasal 76B, pasal 80 ayat 1 juncto pasal 76C Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang perlindungan anak dan pasal 44 ayat 1 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang PKDRT.

    Pelaku dikenai hukuman penjara maksimal 5 tahun atau penjara atau denda maksimal 100 juta rupiah,” ujar Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Wirdhanto Hadicaksono, Selasa, 18 September 2018.