Tidak Mampu Tangkap Jen Tang, LKBHMI: Pak Kajati Pakai Rok Saja dan Pulang Kampung

Tidak adanya progres perkembangan kasus korupsi sewa lahan negara di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar, membuat LKBHMI Cabang Makassar geram. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam Cabang Makakssar kembali berunjuk rasa di depan Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Jalan Urip Sumoharjo, Jumat, 28 September 2018.

Tidak adanya progres perkembangan kasus korupsi sewa lahan negara di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar, membuat LKBHMI Cabang Makassar geram. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam Cabang Makakssar kembali berunjuk rasa di depan Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Jalan Urip Sumoharjo, Jumat, 28 September 2018.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com  –  Tidak adanya progres perkembangan kasus korupsi sewa lahan negara di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar, membuat LKBHMI Cabang Makassar geram. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam Cabang Makakssar kembali berunjuk rasa di depan Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Jalan Urip Sumoharjo, Jumat, 28 September 2018.

Di depan Kantor Kejati Sulsel, LKBHMI mendesak Kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel, Tarmizi, untuk mundur dari jabatannya, karena dianggap tidak becus dan lembek menangkap Jen Tang.

“Lebih baik Pak Kajati pakai rok, dan pulang kampung. Karena tidak mampu menangani kasus korupsi lahan negara di Buloa, dimana Jen Tang sudah ditetapkan tersangka tapi belum ditahan,” jelas Jendral Lapangan aksi LKBHMI Cabang Makassar, Sem Daeng Naba dalam orasinya.

Selain menuntut Tarmizi mundur dari jabatannya, LKBHMI Cabang Makassar juga menuntut empat poin penting terhadap penegakan supremasi hukum. Yakni:

1. Mendesaj Kejagung RI untuk mengambil alih dan segera menuntaskan perkara korupsi sewa lahan negara di Buloa,
2. Menedesak Kejati Sulsel segera menjemput paksa dan melanjutjan pemeriksaan terhadap anak Jen Tang, yaitu Edy Aliman karena sudah 3 kali mangkir dari panggilan,
3. Mendesak Kejati Sulsel untuk menyegel aset milik Jen Tang hingga Jen Tang dan Edy Aliman menyerahkan diri, serta
4 Meminta Kejati Sulsel untuk mencetak foto sebanyak-banyaknya terhadap status DPO Jen Tang untuk disebar dab dipasang di setiap akses publik di wilayah Indonesia.

Mahasiswa yang berunjuk rasa di depan Kantor Kejati Sulsel tersebut bahkan membakar ban dan memblokade jalanan lantaran kecewa Kajati Sulsel, Tarmizi tidak menemuinya. Bahkan, massa aksi menduga, keengganan Tarmizi untuk menemui massa aksi lantaran sudah diberi “materi” oleh Jen Tang.

“Kajati masuk angin. Mungkin saja mereka sudah menerima aliran dana dari Jen Tang. Karena Kajati tidak mampu mempublikasikan sejauh mana progres perkembangan kasus sewa lahan negara,” sambung Sem Daeng Naba.

Bahkan, menurut massa aksi, dugaan bahwa Kejati Sulsel masuk angin, adalah dengan beredarnya foto dan video Jen Tang sedang bersantai di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Padahal, dirinya merupakan DPO atau buronan.

“Kejati tidak berani menangkap Jen Tang. Kejati mandul progres,” tegas Sem Daeng Naba.

Lebih lanjut, pernyataan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Tarmizi, dihadapan anggota Komisi III DPR RI, sewaktu bertandang ke Makassar hanyalah omong kosong belaka atau janji manis. Di mana, Tarmizi mengatakan, akan mengusut tuntas kasus Jen Tang selama dia masih menjabat sebagai Kajati, dan siap dicopot dari jabatannya apabila tidak bisa menangani kasus tersebut.

“Itu cuma angin surga dihadapan anggota Komisi III DPR RI. Buktinya sekarang, mandul!” tambah Sem Daeng Naba.

Massa dari LKBHMI Cabang Makassar yang gagal menemui Kajati Sulsel pun memasang spanduk dan gambar wajah Jen Tang bertiskan DPO di pagar Kantor Kajati, sebagai pengingat bahwa “si mafia hukum” belum ditangkap. Sekitar pukul 17.00 WITA, massa aksi pun membubarkan diri.