Tunda Kampanye Caleg, PDI-P Sulsel Fokus Bantu Korban Gempa dan Tsunami di Donggala-Palu

Sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan yang terkena musibah gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, PDI-P Sulawesi Selatan menunda melakukan kampanye bakal calon anggota legislatifnya. Dimana tahapannya mulai berjalan dari tanggal 23 September 2018 hingga 14 April 2019 mendatang.

Sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan yang terkena musibah gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, PDI-P Sulawesi Selatan menunda melakukan kampanye bakal calon anggota legislatifnya. Dimana tahapannya mulai berjalan dari tanggal 23 September 2018 hingga 14 April 2019 mendatang.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com  –  Sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan yang terkena musibah gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, PDI-P Sulawesi Selatan menunda melakukan kampanye bakal calon anggota legislatifnya. Dimana tahapannya mulai berjalan dari tanggal 23 September 2018 hingga 14 April 2019 mendatang.

Hal itu disampaikan Sekretaris PDI-P Sulawesi Selatan, Rudy Pieter Goni (RPG) saat menggelar jumpa pers di Sekretariat PDI-P Sulawesi Selatan, Jalan Gunung Bawakaraeng, Ahad 30 September 2018.

“Melalui Sekjen DPP PDI-P Hasto Kristiyanto kami diperintahkan menunda semua kegiatan kampanye. Untuk fokus membantu korban gempa dan tsunami di Donggala-Palu,”ujar RPG.

Baca Juga:

    Adapun bantuan bencana yang diberikan berupa tiga unit ambulance dan perlengkapannya, satu unit kendaraan operasional triton, 20 relawan, dan obat-obatan.

    Lalu pakaian ibu dan anak, selimut, popok bayi, pembalut wanita, air mineral, minuman ringan, makanan ringan, biskuit, makanan bayi, mie instan, dan sembako.

    “Koordinator penanggulangan bencana ini pak Ansari Mangkona. Tugas mereka sampai kondisi pulih. Jadi tak ada batas akhirnya,”katanya.

    Turut hadir dalam kegiatan ini, sejumlah pengurus PDI-P Sulawesi Selatan. Diantaranya Rudy Pieter Goni, Ansari Mangkona, Alimuddin, Mawang Palaguna, Nicolaus Beni, dan Husain Djunaidi.