Hendak Ramaikan Festival Pesona Palu Nomoni 2018, Atlet Menembak Ini Malah Lihat Gelombang Besar

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Hafid Abimanyu (40) datang ke Palu pada Kamis, 27 September 2018. Rencananya, dirinya bersama rombongannya dari Samarinda, Kalimantan Timur, akan turut pada turnamen airsoft gun, dalam rangkaian Festival Pesona Palu Nomoni II 2018.

Belum sempat menampilkan kebolehannya, gempa berkekuatan 7,7 SR menguncang Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018. Dirinya, yang mewakili SS1 Samarinda, saat itu sedang mengikuti technical meeting bersama kurang lebih 200 peserta dari seluruh Indonesia berhamburan ke luar dari hotel.

“Kebetulan posisi hotel itu, di belakangnya ada gunung, jadi semua yang ikut technical meeting itu kita ajak semua lari ke gunung,” ujar Hafid, yang mengalami luka di bagian kakinya.

Kini, dirinya berada di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Minggu, 30 September 2018. Bersama sebagian masyarakat yang terdampak gempa dan tsunami yang sempat selamat, dirinya diungsikan ke Makassar.

Raut wajah Hafid masih menunjukkan trauma. Menuturkan kejadiaan naas itu, suaranya parau. Bahkan, dirinya tidal bisa mengingat persis detail apa saja yang dilaluinya, selain ingatan hotel yang runtuh dan sapuan air laut.

Menurutnya, rekan-rekannya yang dari Samarinda yang berjumlah sekitar 30 orang selamat semua.

“Alhamdulillah, selamat semua. Tapi mengalami luka-luka karena tertimpa reruntuhan hotel,” tambah Hafid.

Menurutnya, pasca gempa berkekuatan 7,7 SR tersebut, beberapa kali gempa susulan terjadi. Bahkan, saat tsunami datang, dirinya yang sudah mengungsi di ketinggian tersebut melihat gelombang menyapu pesisir Palu.

“Air naik itu ada sekitar 4 sampai 5 meter tingginya. Ada dua kali hamtaman ombak besar. Dari bibir pantai itu ada sekitar 200 sampai 300 meter yanng bisa kita lihat,” demikian Hafid menjelaskan apa yang dilihatnya dengan suara parau.

Saat ini, dirinya masih bertahan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Meski sebagian pengungsi telah melanjutkan perjalanannya ke Surabaya dan Jakarta, dan sebagian lagi memilih tetap di Makassar dan tinggal di Asrama Haji Sudiang.

Sementara Hafid beserta rombongan atlet menembak asal Samarinda lainnya, masih menunggu jadwal kenerangkatan menuju kampung halamannya. Tentu dengan duka, luka, dam trauma. (**)