Dompet Dhuafa Turunkan Psycholigacal First Aid ke Palu

Pasca Gempa dan Tsunami yang melanda Palu, Sigi dan Donggala pada Jumat ( 28/10) lalu, Dompet Dhuafa bergerak membantu korban serta turut berupaya memulihkan psikologi anak-anak korban gempa bumi dan Tsunami di Halaman Kantor RRI kota palu, Rabu 10 Oktober 2018.

Pasca Gempa dan Tsunami yang melanda Palu, Sigi dan Donggala pada Jumat ( 28/10) lalu, Dompet Dhuafa bergerak membantu korban serta turut berupaya memulihkan psikologi anak-anak korban gempa bumi dan Tsunami di Halaman Kantor RRI kota palu, Rabu 10 Oktober 2018.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Pasca Gempa dan Tsunami yang melanda Palu, Sigi dan Donggala pada Jumat ( 28/10) lalu, Dompet Dhuafa bergerak membantu korban serta turut berupaya memulihkan psikologi anak-anak korban gempa bumi dan Tsunami di Halaman Kantor RRI kota palu, Rabu 10 Oktober 2018.

” Kami sangat terbantu dengan adanya tim psycholigical First Aid ( PFA ) kami mengharapkan untuk bisa mengembalikan keceriaan anak -anak pengungsi ini agar tidak mengingat kejadian apa yang sudah menimpa dirinya,”kata Ruminah salah satu pengungsi.

Dengan melakukan pemulihan psikologis awal pasca gempa merupakan upaya untuk mengurangi tingkat trauma anak-anak akibat terkena dampak psikologis yang ditimbulkan pasca kejadian bencana gempa dan tsunami.

Bencana alam memang tidak hanya menyebabkan masyarakat yang menjadi korban kesulitan mendapatkan pangan, melainkan juga akan menimbulkan efek traumatik bagi masyarakat yang terkena musibah tersebut.

Belum lagi suasana kehidupan yang serba darurat, terutama di tempat-tempat pengungsian membuat para korban tertekan dan mengalami kondisi depresi maupun faktor psikologis lainnya.

Dalam pemulihan psikologis dilakukan dengan cara berkemah, bernyanyi, bermain game, dongeng ceria dan membagikan makanan ringan kepada anak-anak.

Pemulihan psikologis merupakan upaya untuk mengurangi tingkat trauma dewasa dan anak-anak akibat terkena dampak psikologis yang ditimbulkan pasca kejadian bencana.

lalu memisahkan antara korban dewasa dan anak-anak. Screening singkat orang dewasa melalui berbagai metode seperti interview singkat dan observasi.

“Tim yang diterjunkan adalah para relawan praktisi psikologi yang akan berfokus pada memberikan pertolongan psikologis (PFA) dan beberapa pendekatan untuk stabilisasi psikis korban. Proses selanjutnya adalah melibatkan warga lokal dengan pola kaderisasi, mengedukasi warga lokal untuk bisa mendampingi pelaksanaan program ini saat dibutuhkan di waktu selanjutnya ke dalam berbagai program healing seperti berlatih relaksasi dan lain-lain,” ujar Maya Sita Darlina, psikolog selaku Koordinator Psycological. (***)