Oknum Polisi Pelaku Pengeroyokan di Bone Bebas, Korban Akan Kasasi ke MA

Basri Alam (menggenakan topi putih) bersama kuasa hukumnya, Buyung H Hamna saat ditemui di bilangan Urip Sumoharjo Makassar, Jumat, 26 Oktobee 2018. (foto: hardiansyah/djournalist.com)

Basri Alam (topi putih) bersama kuasa hukumnya, Buyung H Hamna saat ditemui di bilangan Urip Sumoharjo Makassar, Jumat, 26 Oktobee 2018. (foto: hardiansyah/djournalist.com)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Basri Alam (42) tidak terima terhadap keputusan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Makassar. Melalui kuasa hukumnya, Buyung H Hamna, dirinya akan melakukan kasasi di Mahkamah Agung. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh majelis hakim adalah sangat keliru.

Basri Alam adalah korban pengeroyokan oleh oknum polisi di Kabupaten Bone pada 2015 silam. Pelaku pengeroyokan adalah AB, MR, KM, dan NA yang telah diputuskan terbukti bersalah oleh Pengadilan Negeri Bone pada Agustus 2018 lalu dan telah dijatuhi vonis.

Kekeliruan putusan Pengadilan Tinggi Makassar yang dipimpin oleh Jack Johanis Octavianus, menurut Buyung H Hamna, lantaran tidak memasukkan keterangan saksi yang melihat pengeroyokan oknum polisi kepada korban sebagai bahan pertimbangan dalam putusannya.

“Sudah jelas dalam putusan pengadilan negeri di halaman itu ada saksi atas nama Herlina dan andi Kaharuddin, dan juga saksi rangkaian yang melihat korban dipukuli sehingga alat bukti saksi terpenuhi,” ungkapnya dengan nada kecewa saat ditemui di bilangan Urip Sumoharjo, Makassar, Jumat, 26 Oktober 2018.

Pertimbangan lain dari majelis hakim adalah keempat terdakwa tidak terbukti cukup kuat. Sebab hasil Visum Et Repertum baru dikeluarkan pada 2017, sementara kejadiannya berlangsung pada 2015. 

“Hakim tidak jeli baca hasil visum. Klien kami divisum itu setelah kejadian dan hasil visumnya memang baru keluar 2017 karena baru diminta oleh penyidik yang memulai penyidikan pada 2017. Namun visum sendiri sudah dilakukan pada tahun 2015 beberapa hari setelah pengeroyokan terjadi,” jelasnya.

Juga disesalkan Buyung, lantaram tim jaksa penuntut umum yang menangani kasus pengeroyokan warga ini tidak mengajukan kontra memori banding ke Pengadilan Tinggi saat terdakwa mengajukan banding. Olehnya, pihaknya mengambil langkah untuk kasasi di MA dan melaporkan kejadian tersebut ke Komisi Yudisial.

Meski kejadian pengeroyokan tersebut berlangsung pada 2015, dan baru disidangkan pada 2018, korban, Basri Alam masih menyimpan trauma. Selain lantaran aksi pengeroyokan yang dilakukan oknum polisi tersebut, juga dirinya menerima kenyataan pahit bahwa yang telah menghajarnya bebas begitu saja pasca bandingnya diterima Pengadilan Tinggi Makassar.

Kejadian penganiayaan tersebut menimpanya pada bulan April 2015 lalu di salah satu cafe di Kabupaten Bone. Diceritakannya, saat hendak meninggalkan kafe itu, beberapa orang langsung memukul wajah dan kepalanya hingga mengalami luka benjolan di dahi kanan dan lecet di pelipis kanan, serta giginya nyaris copot.

“Saya kaget karena saya tidak kenal itu orang siapa yang pukul saya, belakangan ditau kalau itu polisi,” ungka Basri Alam.

Tidak terima atas perlakuan tersebut, dirinya pun melaporkan kejadian tersebut ke Polres Bone. Meski sempat terkatung-katung dan melawati proses panjang dengan mengadu ke Ombudsman, Mabes Polri, Kompolnas, dan Komnas HAM, laporan Basri baru diproses oleh Polres Bone pada tahun 2017. (**)