Kejati Sulsel Kantongi Nama Tersangka Kasus Simpang Lima Bandara Sultan Hasanuddin

Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Tarmizi. (foto: hardiansyah)

Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Tarmizi. (foto: hardiansyah)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Kasus korupsi simpang lima bandara Sultan Hasanuddin Makassar memasuki babak baru.

Pihak Kejati Sulsel telah menetapkan siapa yang bertanggungjawab atas adanya pembebasan lahan fiktif sebesar Rp 3,48 M.

“Sudah final. Saya tidak bisa umumkan dulu (tersangka) karena khawatir alat buktinya nanti hilang dan menjadi ridak valid,” ungkap Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Tarmizi, saat ditemui pasca salt gaib dan doa bersama di Masjid Kejati Sulsel, Rabu, 31 Oktober 2018.

Meski demikian, pihak Kejati Sulsel sendiri masih enggan membeberkan siapa dan berapa orang yang terlibat dalam pembebasan lahan fiktif tersebut.

Juga, pihak Kejati Sulsel mengklaim masih membutuhkan sejumlah alat bukti untuk memperkuat status tersangka dalam pembebasan lahan pembangunan simpang lima bandara Sultan Hasanuddin tersebut.

“Insya Allah kita akan ekspos. Harap maklum, kami masih membutuhkan alat bukti, takut yang bersangkutan lari,” sambung Tarmizi.

Sebagaimana diketahui, dugaan korupsi tersebut terendus, ketika Badan Pertanahan Nasional Sulawesi Selatan (BPN Sulsel) menemukan adanya indikasi pembayaran pembebasan lahan yang fiktif sebesar Rp 3,48 miliyar.

Pihak Kejati Sulsel sendiri telah memeriksa beberapa saksi terkait hal tersebut. Termasuk panitia sembilan yang yang diduga mengetahui dan terlibat dalam proyek tersebut.

Beberapa orang yang dimaksud, yakni dua staf Kesbangpol Kota Makassar, Hasan Sulaiman dan Ahmad Rifai, pada Januari lalu. Juga, Mantan Camat Biringkanaya, Andi Syahrum Makkurade dan Kepala Kelurahan Sudiang, Udin Idris. (**)