Ini Pemicu Mengapa Akhir-akhir Ini Terjadi Gempa di Wilayah Sulsel dan Sulbar

Pasca gempa berkekuatan 7,7 SR di Palu pada Jumat, 28 September 2018 lalu, tercatat ratusan kali gempa susulan terjadi di wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan.

Pasca gempa berkekuatan 7,7 SR di Palu pada Jumat, 28 September 2018 lalu, tercatat ratusan kali gempa susulan terjadi di wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Pasca gempa berkekuatan 7,7 SR di Palu pada Jumat, 28 September 2018 lalu, tercatat ratusan kali gempa susulan terjadi di wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan.

Gempa tektonik yang disertai tsunami akibat aktivitas sesar Palu Koro juga memicu aktivitas sesar-sesar lainnya yang ada di wilayah sekitarnya, seperti sesar Saddang, sesar Matano, dan sesar Walennae.

Teranyar, aktivitas sesar Saddang yang mengakibatkan gempa berkali-kali di Mamasa, Sulawesi Barat.

Baca Juga:

    Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika wilayah IV Makassar mencatat, bahwa sejak Sabtu, 3 November 2018 sampai Rabu, 7 November 2018, sudah ada 89 aktivitas seismik yang terjadi.

    Gempa terbanyak, tercatat terjadi pada Selasa, 6 November 2018 kemarin. Untuk hari ini, Rabu, 7 November 2018 per pukul 06.15, sudah terjadi 6 gempa susulan.

    “Dalam beberapa waktu terhitung cukup jarang gempa terjadi di wilayah Mamasa ini. Namun belakangan sesar ini mulai aktif dan menyebabkan gempa yang cukup besar dan disertai banyak gempa susulan dengan kekuatan bervariasi antara 2 – 3 SR,” sebut PMG Penyelia PGR IV Makassar, Barkah Yuniarto.

    Namun, gempa bumi tersebut tidaklah berpotensi tsunami, sebab titik gempa berada di darat.

    Disebutkan pula oleh Barkah Yuniarto, bahwa sesar Saddang yang menjadi pemicu gempa bumi tektonik tersebut membentang dari  Sulawesi Barat hingga Sulawesi Selatan.

    “Sesar Saddang membentang dari pesisir Pantai Mamuju, Sulawesi Barat memotong diagonal melintasi daerah Sulawesi Selatan bagian tengah, lalu Sulawesi Selatan bagian selatan, Kota Bulukumba, hingga ke Pulau Selayar bagian timur,” ungkap Barkah Yuniarto. (**)