Rektor UMI Makassar Ajak Civitas Maknai Maulid Sebagai Instrumen Perubahan

Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com –  Berbagai macam cara dilakukan civitas akademika Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

Selain kegiatan serimoni lainya berupa lomba. Hal lain yang dilakukan di lingkup UMI Makassar adalah menyebar 100 pohon kurma.

Puncak dari memperingati hari kelahiran sang teladan sejati nabi Muhammad SAW. UMI menggelar Maulid di Uditorium Al-Jibra kamous II UMI.

Rektor UMI Makassar, Prof Dr Basri Modding SE. MM mengatakan, peringatan maulid rutin dilakukan setiap tahun di UMI dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi yang menjadi panutan bagi semua ummat.

“Maulud banyak hal kita petik terutama ahlaq Nabi, perlu untuk menumbuhkan kecintaan umat Muslim termasuk UMI kepada Nabi Muhammad SAW. Tentu meneladani sifat dan ajaran islam,” ujarnya.

Menurutnya, UMI sebagai lembaga pendidikan tinggi berbasis islam tentu memaknai Maulid sebagai instrumen untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

“Ahlaq Nabi lemah lembut.
Ahlaq juga punya makna lain keras dan komitmen. Maka kita harus ikuti tuntutan alquran dan hadist. Maka dari itu, kita keluarga UMI mengabdi dengan ihklas, serta bersyukur dengan apa yang kita dapat hari ini,” tuturnya.

Oleh sebab itu, melalui Maulid ia berharap kekuarga UMI senantiasa menjaga kebersamaan.

“Itulah cita-cita yang diterapkan oleh UMi. Guna mensejahteraan warga UMi. Maka kita berusaha mewujudkan komitmen ini,” demikian saran Guru besar FE UMI Makassar itu.

Sementara itu, tausiyah hikmah Maulid yang disampaikan Ustadz. KH. Dr. Hamzah Harun Al-Rasyid Lc.MA banyak menyampaikan tentang keteladanan Nabi yang perlu dijaga dan diterapkan di UMI Makassar.

“Peringatan Maulid adalah bentuk ekspresi dalam bentuk apa saja menggambarkan kecintaan dan keagungan kepada Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Ia juga menyampaikan terdapat pendapat mengenai hukum memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Pertama, menyebut peringatan ini adalah bid’ah. Pendapat kedua sebaliknya, yaitu memperbolehkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, ada beberapa riwayat serta hadist yang menerangkan bahwa peringatan maulid Nabi Muhammad SAW boleh dilakukan. Salah satunya adalah Rasulullah SAW ternyata mengenang hari lahirnya sendiri.

“Perayaan maulid bukan bid’ah, karena Nabi pernah rayakan hari kelahiran dalam bentuk puasa. Maka bagaimana kita hidupkan sunnah rasulullah SAW dengan kegiatan lain,” tuturnya.

Ditambahkan, kerinduan Ummat islam untuk masuk surga maka harus taat dan jalankan apa yang dikerjakan dan diwariskan Nabi hibgga saat ini.

“Sunnah Rasul ada dua, ada sunnah posisi status sebagai nabi, wajib di ikuti. Kedua ada sunnah ucapan dan perbuatan kita ikuti sebagai manusia biasa. Untuk menjalankan dan sekarang, kita harus ikuti kontektualisasi, kedua rasionalisasi,” pungkasnya. (**)