Raja Juli Antoni: Anak Muda Tidak Boleh Apatis

Dialog publik Ngobrol Orrang Muda dengan tema"Pemilu 2019: Masa Depan Demokrasi dan Toleransi di Indonesia", Jumat kemarin 7 Desember 2018 di Urbanist Box Foodcourt, Jalan Pelita Raya.

Dialog publik Ngobrol Orrang Muda dengan tema"Pemilu 2019: Masa Depan Demokrasi dan Toleransi di Indonesia", Jumat kemarin 7 Desember 2018 di Urbanist Box Foodcourt, Jalan Pelita Raya.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com  –  Sekretaris Jenderal DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni meminta anak muda tidak boleh apatis terhadap perhelatan politik di bangsa ini, melainkan harus mengambil peran-peran penting dalam pesta demokrasi yang akan kita hadapi tahun depan.

‘Sikap primordialisme dan sikap intoleransi adalah jualan politik yang sangat berbahaya di negara ini, untuk itu sebagai anak muda yang mempunyai karakter dan semangat pantang menyerah haruslah melawan sikap-sikap yang dapat memecah-belah bangsa ini,”ujar Raja dalam dialog publik Ngobrol Orrang Muda dengan tema”Pemilu 2019: Masa Depan Demokrasi dan Toleransi di Indonesia”, Jumat kemarin 7 Desember 2018 di Urbanist Box Foodcourt, Jalan Pelita Raya.

Menurutnya, korupsi sebagai salah satu sumber kekacauan pemerintahan, haruslah dilawan dan anak muda sebagai penerus bangsa harus menggaungkan anti-korupsi mulai sejak dini.

Baca Juga:

    “Banyak ide dan gagasan yang dapat dikeluarkan oleh anak muda Indonesia, dan anak muda Makassar tentunya juga bisa berbuat untuk Indonesia yang lebih baik”, tambah Bro Toni yang juga pernah menjadi Direktur Maarif Institut.

    Sementara itu, Indrawanto Paningaran, sebagai moderator menjelaskan bahwa demokrasi Indonesia saat ini sedang sakit. Demokrasi sudah melenceng dari ruh sebenarnya. Apalagi dengan kasus penghinaan pimpinan negara yakni presiden yang marak terjadi akhir-akhir ini di media-media pemberitaan. Ini menandakan bahwa ada segelintir orang yang mau memecah belah bangsa ini. Orang-orang yang menghina presiden harus mendapatkan hukuman karena menghina presiden sama dengan menghina simbol negara.

    “Anak muda Indonesia harus jeli melihat praktik demokrasi yang ada di bangsa ini, jangan sampai tergiring dalam situasi yang intoleran dan apalagi ikut terlibat dalam penghinaan terhadap simbol negara”, ujar Indra yang juga sebagai Presidium Aliansi Muda Peduli Demokrasi (AMPERA)

    Dalam dialog yang berlangsung selama tiga jam itu dihadiri pula Jeirry Sumampouw (Koordinator Komite Pemilih Indonesia-TePI), dan Pither Ponda Baraniy seorang advokat sebagai narasumber.