Menlu Retno Marsudi Beberkan Diplomasi Maritim di Unhas

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin mengadakan talk show Ini Diplomasi Bersama Menlu Retno di Baruga AP Pettarani Unhas, Sabtu 23 Februari 2019.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin mengadakan talk show Ini Diplomasi Bersama Menlu Retno di Baruga AP Pettarani Unhas, Sabtu 23 Februari 2019.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin mengadakan talk show Ini Diplomasi Bersama Menlu Retno di Baruga AP Pettarani Unhas, Sabtu 23 Februari 2019.

Kegiatan ini merupakan rangkaian acara Festival Diplomasi yang digelar oleh Kemlu RI di Celebes Convention Center, Makassar.

Talk show tersebut dihadiri oleh ribuan mahasiswa yang memadati ruang Baruga Pettarani di lantai satu dan dua. Dekan dan Wakil Dekan FISIP Unhas, Wakil Rektor I dan Wakil Rektor IV Unhas, serta pimpinan lembaga lainnya hadir meramaikan acara dialog tersebut.

Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof Dr. Ir. Muhammad Restu, MP dalam sambutan pengantar menyebutkan bahwa orang di Sulawesi Selatan tidak bisa dilepaskan dari kegiatan diplomasi, khususnya alumni Unhas.

Sejumlah tokoh dari Sulsel telah ikut memainkan peran sebagai diplomat. Beberapa diantaranya, Prof Basri Hasanuddin, mantan Rektor Unhas yang pernah jadi Dubes RI untuk Negara Republik Islam Iran. Selain itu, ada Prof Hamid Awaluddin yang mantan Dubes RI untuk Rusia.

“Secara historis, kita pernah punya tokoh pejuang Karaeng Pattingalloang, yang mempunyai kemampuan komunikasi secara baik dalam berbagai bahasa, dan juga mempunyai kemampuan diplomasi sebagai pemimpin. Sehingga kemampuan diplomasi yang turun temurun kita harapkan bisa berkembang bagi anak-anak kita, mahasiswa-mahasiwa yang ada di wilayah Sulawesi Selatan ini,“ kata Prof. Restu.

Menteri Luar Negeri RI, Retno Lestari Priansari Marsudi, di awal kuliah umumnya menyebutkan bahwa jika berbicara mengenai diplomasi perdagangan dan perdamaian kita tidak bisa melupakan sosok orang Sulsel yang sudah sangat dikenal, yaitu Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla.

“Beliau adalah orang yang saya selalu minta pendapat dan sarannya dalam upaya mengatasi konflik dan bagaimana menciptakan perdamaian,“ kata Menlu Retno di sela presentasinya.

Dalam pemaparannya, Menlu Retno membahas berbagai kegiatan diplomasi maritim, ekonomi, dan diplomasi kemanusiaan yang dipimpinnya di Kementerian Luar Negeri RI. Beliau mengatakan Indonesia merupakan bangsa maritim dan pelaut yang 2/3 wilayahnya adalah laut.

“Kalau kita berbicara jiwa bahari, maka kita pasti akan teringat suku bangsa Bugis-Makassar. Dan, yang tidak kalah pentingnya dan ini kental dengan khas Sulawesi Selatan adalah masalah keberanian. Karena keberanian, mereka berlayar dan berdagang, maka nama Bugis-Makassar dikenal oleh dunia. Di Singapura, misalnya, ada nama Bugis Street. Kemudian di Cape Town, Afrika Selatan, ada kampung Makassar,” katanya.

Agenda diplomasi maritim, papar Retno, tidak lepas dari visi Presiden Jokowi Widodo yang mengusung tema Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia yang adagiumnya cukup terkenal, “ Kita terlalu lama memunggungi samudera, laut dan teluk”.

Visi tersebut oleh Kemlu Rl diterjemahkan dalam diplomasi maritim dengan mengambil peran kepemimimpinan serta menginiasiasi berbagai agenda dan kegiatan kemaritiman dalam politik luar negeri Indonesia. Pada tahun 2015-2017, Indonesia, misalnya, menjadi ketua Indian Ocean Rim Association (IORA). Sejak didirikan, untuk pertama kalinya, IORA di bawah kepemimpinan Indonesia menggelar KTT.

“Semasa KTT, kita menginjeksi energi dan semangat baru bagi IORA untuk mengembangkan kerja sama maritim. Di tahun 2017, kita mengarusutamakan isu maritim di dalam East Asia Summit. Di tahun 2018 juga, kita mengarusutamakan lagi isu maritim dengan membahas isu khusus, yaitu Maritim Plastic Debris. Masih mengenai diplomasi maritim, Oktorber 2018, kita menjadi tuan rumah dari Our Ocean Conference,” ungkap Menlu Retno.

Retno Marsudi mengatakan, konferensi internasional tentang samudera atau laut tersebut telah menghasilkan ratusan komitmen yang bisa melindungi keamanan laut Indonesia, serta meningkatkan kerja sama ekonomi Indonesia dengan berbagai negara di dunia.

Selain itu, Indonesia juga menginisiasi dan mengembangkan konsep Indo Pasifik yang mengusung agenda kerja sama maritim, konektifitas dan infrastruktur, dan pembangunan berkelanjutan.

Dalam diplomasi ekonomi, kata Menlu, Indonesia mengembangkan pasar non-tradisional untuk kepentingan ekspor, seperti Afrika, Eropa Tengah dan Timur, Asia Selatan dan Tengah, dan Amerika Latin.

Berkaitan hal itu, pemerintah melalui Kemlu menginisiasi forum Indonesia – Afrika yang menghasilkan kesepakatan bisnis bernilai 586 juta dolar AS, serta potensi bisnis 1,3 milyar dolar AS. Indonesia juga telah mengekspor gerbong kereta api ke Bangladesh, ekspor pesawat CN-235 ke Senegal. Indonesia juga telah meresmikan pabrik Mie Instan Indomie di Serbia.

“Instant Noodle Indonesia sangat populer di Afrika. Bahkan, kita sudah membuka pabrik-pabrik Indomie, “ ungkapnya yang disambut aplaus oleh ribuan mahasiswa.

Sementara itu, dalam diplomasi kemanusiaan, Indonesia telah banyak berkontribusi dalam upaya kemanusiaan dan perdamaian di sejumlah negara, khususnya di Palestina dan dan Rohingya. Kontribusi Indonesia ke Palestina sangat signifikan, di antaranya, pembangunan rumah sakit di Gaza, program peningkatan kapasitas SDM untuk 3 tahun ke depan, bantuan finansial sebesar 1 juta dolar AS untuk periode 2019 dan 2020, dan bantuan filantropis Indonesia sebesar 1, 3 juta dolar AS.

“Intinya, kita akan melakukan apa pun untuk mendukung kemerdekaan Palestina, dan saya senang pemerintah bersama masyarakat terus mendukung Palestina,“ katanya.

Usai memberikan presentasi, Menlu Retno Marsudi melakukan dialog dan tanya jawab dengan sejumlah mahasiswa. Menlu perempuan pertama ini duduk lesehan di atas panggung dengan beberapa mahasiswa yang mengajukan pertanyaan, dan berbicara langsung di hadapan mereka. Sesi diskusi tampak cair dan akrab. Para penanya tersebut juga diberikan souvenir oleh Menlu.

Acara berlangsung sangat meriah, yang ditutup dengan sesi foto selfi mahasiswa dengan Menlu Retno Marsudi. (Rilis)