Silaturahmi Akhir Masa Jabatan MWA Unhas Periode 2016-2019

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Masa kerja Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas periode 2016-2019 secara formal telah berakhir pada 26 Februari 2019.

Hal itu sesuai Surat Keputusan Menteri Ristek Dikti tentang Pengangkatan Anggota Majelis Wali Amanat Unhas 2016-2019.

Untuk menandai akhir masa jabatan, MWA Unhas menggelar Rapat Pleno diperluas, Rabu, 27 Februari 2019, di Lantai 8 Gedung Rektorat Unhas.

Rapat ini dihadiri oleh anggota MWA Unhas, pimpinan Universitas, serta komponen universitas yang selama ini terlibat dalam mendukung kerja MWA Unhas, baik dosen maupun tenaga kependidikan.

Acara yang dipandu oleh Wakil Ketua MWA Periode 2016-2019, Prof Dr Ir Natsir Nessa, mendengarkan paparan dan sambutan dari Ketua MWA, Rektor Unhas dan Ketua Senat Akademik.

Dalam pidatonya, Ketua MWA Unhas periode 2016-2019, Prof Dr Basri Hasanuddin, MA menyatakan kebanggaannya diberikan kepercayaan untuk memimpin MWA Unhas di ujung perjalanan karirnya.

Dirinya merasa memperoleh kesempurnaan karir, sebab dirinya pernah menjabat Rektor di kampus ini dan akhirnya diminta kembali untuk mengembangkan Unhas.

“MWA yang saya pimpin telah bekerja semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi Unhas. Memang belum sempurna, tapi inilah hasil maksimal yang dapat kami berikan sesuai arahan statuta Unhas. Kami telah menghasilkan berbagai peraturan MWA dan turunannya, serta menghasilan berbagai SOP. Itu semua dapat terwujud berkat dukungan dan kerja sama yang baik antara MWA dengan Rektor dan Senat Akademik sebagai organ-organ utama Unhas,” kata Prof Basri.

Prof Basri Hasanuddin juga memaparkan kilas balik penunjukkan dirinya sebagai Ketua MWA Unhas, yang ketika itu dipilih secara aklamasi.

Dari seluruh perjalanan sebagai Ketua MWA dalam tiga tahun, dirinya sangat terkesan dengan keberhasilan MWA Unhas memilih Rektor Unhas, yang untuk pertama kali dipilih oleh MWA.

“Kita tahu, pemilihan Rektor ini merupakan ujian paling penting bagi MWA. Keberhasilan dan kegagalan kinerja MWA akan sangat dipengaruhi oleh pemilihan Rektor. Alhamdulillah, kita berhasil melewatinya dengan sangat baik, tanpa gejolak berarti. Kalau kita bandingkan dengan kampus PTN Badan Hukum lainnya, kita sangat patut berbangga,” kata Prof. Basri.

Sementara itu, Rektor Unhas yang diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya, menyatakan sangat terbantu dengan keberadaan MWA Unhas. Meskipun dirinya mengaku sempat was-was juga dengan kehadiran MWA ketika ia baru dua tahun menjabat sebagai Rektor.

“Yang membuat saya berdebar-debar itu, karena di kampus PTN Badan Hukum lain, MWA itu adalah sosok yang sulit bekerja sama dengan Rektorat. Ada MWA yang betul-betul menjadi pengawas yang ketat, ada juga di kampus yang pemilihan rektor sampai berulang-ulang. Bahkan di Medan, pemilihan rektornya ditunda terus karena MWA. Saya berpikir, wah ini Medan dengan Makassar karakternya hampir sama. Alhamdulillah, ternyata dibawah kepemimpinan Prof. Basri, MWA kita ternyata tidak seperti itu,” kata Prof Dwia.

Ketika MWA Unhas pertama terbentuk, MWA sepakat mengemban visi untuk mendukung terciptanya iklim akademik yang kondusif di Unhas.

“Begitu mendengar visi itu, wah saya langsung lega. Dalam prakteknya, MWA Unhas melakukan pengawasan dengan bijaksana. Yaitu pengawasan bukan untuk menjatuhkan atau mencari kelemahan, tapi pengawasan yang mendukung dan memperkuat. Kita diawasi sambil dibimbing,” kata Prof Dwia yang disambut dengan aplaus hadirin.

Menurut Prof Dwia, ada banyak kebijakan pengawasan oleh MWA yang sifatnya konstruktif. Misalnya, MWA mendorong agar setiap fakultas memiliki Center of Excellence (COE) yang menjadi unggulan inovasi sesuai kekhasan disiplin ilmu.

“ Kebijakan itu kami terapkan, fakultas-fakultas kita minta membentuk COE, kemudian MWA mengawasi implementasinya. Hasilnya, sekarang COE-COE kita telah menjadi praktek baik yang menjadi kebanggan Kementerian,” kata Prof Dwia.

Unhas sebagai PTN Badan Hukum memiliki tiga organ utama, yaitu MWA, Senat Akademik, dan Rektor, masing-masing dengan fungsi spesifik.

MWA memiliki tanggung jawab untuk mengawasi bidang non akademik, sementara Senat Akademik lebih fokus pada aspek akademik. Rektor adalah organ yang berfungsi sebagai eksekutif yang menjalankan usulan MWA dan Senat Akademik.

Prof. Dr. Tahir Kasnawi, SU yang merupakan Ketua Senat Akademik hingga tahun 2018 mengatakan bahwa ketiga organ ini di Unhas dapat bersinergi dengan sangat baik.

“Awalnya memang berat, penuh tantangan. Namun karena komunikasi antara ketiga organ ini yang sangat baik, maka tantangan tersebut dapat kita atasi. Saya sangat bersyukur menjadi bagian dari organ ini,” kata Prof Tahir.

Sementara Ketua Senat Akademik yang sekarang menjabat, Prof. Dr. Ir. Dadang A.S., mengatakan bahwa kepemimpinan Prof Basri Hasanuddin sebagai Ketua MWA periode 2016-2019 memberi banyak sekali pelajaran bagi dirinya.

“Ada tiga hal utama yang bisa kita petik dari kepemimpinan Prof Basri dan dari MWA periode lalu. Pertama, gaya kepemimpinan yang mengayomi dan membuka kebebasan berpendapat. Kedua, model pengelolaan dari segala aspek kegiatan, baik ranah akademik maupun non-akademik. Kedua hal ini memang terpisah, tapi tidak bisa kita pisahkan. Kalau di kampus, kedua aspek ini berkaitan erat. Ketiga, adalah menjaga komplementaritas berbasis motivasi. Ini menjadi modal bagi kita untuk berkontribusi,” kata Prof Dadang.

Prof Dadang menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa ibarat kapal, Unhas ini adalah bahtera yang sudah siap. “ Layar sudah terkembang, navogator berpengalaman sudah siap. Tidak ada pilihan, kini saatnya kita berlayar,” kata Prof Dadang.

Dengan berakhirnya MWA Unhas Periode 2016-2019, maka tugas MWA selanjutnya akan dilaksanakan oleh MWA dengan komposisi baru. Sebagaimana diketahui, MWA Unhas memiliki 19 anggota. Anggota ex-officio, yaitu anggota MWA karena jabatannya (yaitu: Menteri Ristek Dikti, Gubernur Sulsel, Rektor Unhas, Ketua Senat Akademik, Ketua Ikatan Alumni, dan Ketua BEM atau sebutan lain sebagai wakil mahasiswa). Juga ada anggota MWA yang merupakan wakil dosen sebanyak 8 orang yang dipilih oleh Senat Akademik, serta anggota MWA dari wakil tenaga kependidikan sebanyak 2 orang. Selain itu, terdapat tiga orang anggota MWA yang merupakan wakil Tokoh Masyarakat sebanyak 3 orang.(rilis)