Kejati Sulsel Bidik Tersangka Baru Kasus Sejuta Bibit Kopi Mamasa

Ilustrasi Palu Sidang

Ilustrasi Palu Sidang

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Kejaksaan Tinggi Sulsel membidik tersangka baru dalam kasus pengadaan sejuta bibit kopi di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Alasannya, Kejati mencurigai tindakan pidana korupsi tersebut tidak dilakukan sendiri.

Asisten Pidana Khusus Kejati Sulsel, Fentje E. Loway mengatakan timnya baru saja melakukan pemeriksaan kepada rekanan dalam pengadaan bibit kopi ini untuk mengejar tersangka baru.

“Kemarin tim sudah berangkat ke jakarta, untuk melakukan pemeriksaan kepada rekanan proyek. Pemeriksaanya dilakukan di jakarta karena, rekanan tersebut mengalami penyakit stroke berat,” katanya, Jumat 29 Maret 2019.

Baca Juga:

    Dalam kasus ini, kata Fentje, peluang untuk adanya tersangka baru sangat besar, sebab kata dia, biasanya dalam tindak pidana korupsi tidak hanya dilakukan oleh seseorang melainkan lebih dari satu.

    “Ada peluang untuk adanya tersangka baru, biasanya itu akan berkembang, kami fokus dulu kami selesaikan sesuai SOP, tapi kemungkinan ada tersangka baru kita lihat hasil pemeriksaan, biasanya tidak ada pelaku korupsi yang bekerja sendiri,” bebernya.

    Diketahui Kegiatan pengadaan 1 juta bibit kopi di Kabupaten Mamasa, Sulbar pada tahun 2015 lalu dimenangkan oleh PT. Surpin Raya. Diduga dalam pengadaan bibit tidak sesuai dengan spesifikasi yang tertera dalam dokumen lelang.

    Dimana, dalam dokumen lelang disebutkan pengadaan bibit kopi menggunakan anggaran senilai Rp 9 miliar dan juga disebutkan bahwa bibit kopi unggul harus berasal dari uji laboratorium dengan spesifikasi Somatic Embrio (SE). Namun dari 1 juta bibit kopi yang didatangkan dari Jember tersebut, terdapat sekitar 500 ribu bibit kopi yang diduga dari hasil stek batang pucuk kopi yang dikemas di dalam plastik dan dikumpulkan di daerah Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Sulbar.

    Biaya produksi dari bibit labolatorium diketahui berkisar Rp 4.000 sedangkan biaya produksi yang bukan dari laboratorium atau hasil stek tersebut hanya Rp 1.000. Sehingga terjadi selisih harga yang lumayan besar.

    Dari hasil penyidikan yang dilakukan penyidik Pidsus Kejati Sulsel, pihak rekanan dalam hal ini PT. Surpin Raya diduga mengambil bibit dari pusat penelitian kopi dan kakao (PUSLITKOKA) Jember sebagai penjamin suplai dan bibit. Diduga bibit dari Puslitkoka tersebut merupakan hasil dari stek.

    “Kami juga sudah memberangkatkan tim ke jember untuk mengecek disana, karena pengadaan bibitnya diambil dijember,” jelasnya.

    Diketahui, dalam kasus ini, Kejati Sulsel telah menetapkan satu orang tersangka, yang berinisial M. M ini adalah salah satu pegawai dari Pemkab mamasa. Ia dijerat karena diduga ikut terlibat dalam mark up harga bibit kopi tersebut. (**)