Polair Polda Sulsel Gagalkan Kapal Pengangkut Bom Ikan di Sekitar Kampung Bajoe

Direktorat Polisi Perairan (Polair) Polda Sulawesi Selatan berhasil mengamankan kapal pengangkut bom ikan di sekitar Teluk Bone, Bajoe, Kabupaten Bone, pada Ahad 3 April kemarin.

Direktorat Polisi Perairan (Polair) Polda Sulawesi Selatan berhasil mengamankan kapal pengangkut bom ikan di sekitar Teluk Bone, Bajoe, Kabupaten Bone, pada Ahad 3 April kemarin.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com  –  Direktorat Polisi Perairan (Polair) Polda Sulawesi Selatan berhasil mengamankan kapal pengangkut bom ikan di sekitar Teluk Bone, Bajoe, Kabupaten Bone, pada Ahad 3 April kemarin.

Kapolda Sulsel Irjen Pol Hamidin dalam keterangan pers di Mako Polair Polda Sulsel, Jalan Ujung Pandang, Makassar, Kamis 4 April 2019, menyebutkan dalam rangka proses pengamanan wilayah Sulsel jelang pelaksanaan Pemilu, anggota Polair mengamankan kapal pengangkut bom ikan bersama nahkodanya, dengan inisial RB (21).

“Tim lidik Polair mendapat laporan masyarakat di sekitar Kampung Bajoe bahwa ada nelayan yang akan melakukan penangkapan ikan meggunakan bom, setelah diintai beberapa hari akhirnya ditemukan kapal jenis jolloro dan tersangka nahkodanya,” ujar Hamidin.

Ia menyebutkan dampak dari aksi pengeboman di laut dapat merusak ekosistem bahari di sekitar lokasi ledakan. Setiap satu ledakan, lanjut Hamidin, mempunyai daya ledak sekitar 500 meter persegi di lautan, yang menyebabkan hancurnya terumbu karang, semua jenis ikan yang terkena ledakan ikut mati.

“Bahayanya luar biasa, semua jenis ikan, kecil dan besar terkena ledakan. Terumbu karang tumbuh setiap tahunnya hanya 1 centimeter, dengan mudahnya dirusak oleh pelaku bom ikan,” tutur Hamidin.

Sementara itu, Direktur Dit Polair Polda Sulsel Kombes Purwoko menyebutkan Tim Lidik Direktorat Polair Polda Sulsel berhasil menyita barang bukti bahan bom ikan Ammonium Nitrate Urea dari kapal tersangka yang terdiri: 3 jeriken ukuran 5 liter, 7 jeriken ukuran 2 liter, 18 jeriken ukuran 2 liter, 18 jeriken ukuran 1 liter, 34 botol bir bekas dan 2 botol plastik berisi TNT.

Selain bahan peledak, beberapa barang bukti lainnya yaitu: 1 mesin kompressor, 2 pasang sepatu selam, 1 alat GPS, 3 regulator, 1 rol selang dan 3 kacamata selam.

Atas perbuatan terangka, Purwoko mengungkapkan, dijerat Pasal 1 ayat 1 Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dan Pasal 85 Undang-undang RI Nomor 45 Tahun 2009 tentang perubahan Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Sebab perbuatan tersangka yang membawa, memiliki atau menguasai bahan peledak, serta menggunakan alat penangkap ikan yang mengganggu dan merusak sumber daya ikan di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia,

“Tersangka diancam hukuman 20 tahun penjara dengan Undang-undang Darurat, sedangkan Undang-undang Perikanan diancam 5 tahun penjara,” jelas Purwoko.