YAICI-PP Muslimat NU Minta Masyarakat Bijak Konsumsi Susu Kental Manis

Yayasan Abhiparaya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) bersama Pengurus Pusat Muslimat NU meminta masyarakat bijak mengkonsumsi Susu Kental Manis (SKM).(foto:djournalist).

Yayasan Abhiparaya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) bersama Pengurus Pusat Muslimat NU meminta masyarakat bijak mengkonsumsi Susu Kental Manis (SKM).(foto:djournalist).

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Yayasan Abhiparaya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) bersama Pengurus Pusat Muslimat NU meminta masyarakat bijak mengkonsumsi Susu Kental Manis (SKM).

Hal ini tersebut diutarakan disela-sela Talk Show edukasi dan kreasi makanan sehat di Gedung Krida Nirmala Dinas Kementrian Kesehatan Propinsi Sulsel Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, Kamis 8 Agustus 2019.

” Terkait SKM ini penting untuk disosialisasikan karena banyak persepsi yang keliru di masyarakat dalam mengonsumsi SKM, SKM tidak dilarang, tapi kita harus bijak dalam mengkonsumsinya,” papar Ketua Harian YAICI Arif Hidayat.

Baca Juga:

    Ia menyebut, SKM hanyalah tambahan makanan dan minuman atau topping. Karena itu, perlu pengawasan terhadap promosi dan penggunaan SKM oleh masyarakat.

    Ditambahkan, iklan susu kental manis menyesatkan persepsi masyarakat dan sudah membentuk persepsi masyarakat bahwa SKM adalah susu bernutrisi.

    Yayasan Abhiparaya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) bersama Pengurus Pusat Muslimat NU meminta masyarakat bijak mengkonsumsi Susu Kental Manis (SKM).

    Peserta antusias menyimak Talk Show edukasi dan kreasi makanan sehat di Gedung Krida Nirmala Dinas Kementrian Kesehatan Propinsi Sulsel.

    ” SKM memiliki kandungan gula yang tinggi, sehingga jika dikonsumsi anak bisa menyebabkan diabetes dan stunting atau gizi buruk,”tambah Arif Hidayat.

    Ia juga mengapresiasi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang dengan tegas mengeluarkan aturan dan mengatur lebel dan iklan SKM.

    Sementara itu, Dra Adila Pababbari, Apt.,MM Selaku Fungsional Ahli Madya Farmasi dan Makanan BPOM Provinsi Sulsel menjelaskan, boleh saja mengkonsumsi SKM, tapi tidak untuk anak di bawah umur lima tahun. Pasalnya, SKM bukanlah penambah gizi melainkan pelengkap makanan atau toping.

    ” Jadi tidak ada yang salah dengan susu nya, dia tetap mengandung susu. Hanya saja protein yang terkandung tidak lebih dari enam persen kemudian kadar lemak 8,5 persen, tetap susu akan tetapi tidak sama dengan susu cair dan susu bubuk yang memang untuk susu formula,”jelas Dra Adila.

    Sementara Dr Erna Sofihara, Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU berharap, edukasi ini bisa diteruskan ke seluruh masyarakat sampai ke tingkat bawah.

    ” Hampir semua gak tau, disinilah kita tergerak untuk bersama mensosialisasikan dan meluruskan kekeliruan bahwa SKM bukan untuk pengganti ASI, berharap ilmu ini diteruskan oleh para kader ke masyarakat melalui majelis taklim,”tutup Dr Erna. (***)