Dua Saksi Kekerasan Jurnalis Makassar Dicecar 20 Pertanyaan

Dua Saksi Kekerasan Jurnalis Makassar Dicecar 20 Pertanyaan.

Dua Saksi Kekerasan Jurnalis Makassar Dicecar 20 Pertanyaan.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – 2 orang saksi kasus kekerasan terhadap 3 jurnalis di Makassar, Sulawesi Selatan yang diduga dilakukan aparat kepolisian saat meliput unjuk rasa di depan Kantor DPRD Sulsel beberapa waktu lalu, memberikan keterangan kepada penyidik di ruangan Subdit I Keamanan Negara, Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Direskrimum) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan, Makassar, Senin (7/10/2019).

Pemeriksaan sekitar 3 jam itu, menghadirkan saksi yakni masing-masing Muh. Nur dari Jurnalis TV One dan Taufiq Lau dari Jurnalis Metro TV.

Penyidik memeriksa dua saksi terkait kehadiran mereka saat polisi membubarkan aksi massa hingga terjadi perlakukan kekerasan oknum aparat kepolisian terhadap 3 Jurnalis yang meliput aksi demo tersebut pada Selasa, 24 September 2019, di sekitar kantor DPRD Sulsel.

Baca Juga:

    Tim advokasi hukum LBH Pers Makassar turut mendampingi kedua saksi saat pemeriksaan oleh penyidik. Tim pendamping saksi masing-masing Firmansyah, Fajriani Langgeng, Hamka dan Abdul Kadir Wokanubun.

    “Kami berharap pihak kepolisian bekerja secara profesional karena semua bukti foto dan rekaman sudah kami serahkan semua, tinggal polisi bekerja menuntaskannya,” tegas Kadir.

    Sementara saksi Taufiq mengatakan usai memberikan keterangan kesaksian pemeriksaan ada 20 pertanyaan yang dilayangkan penyidik soal keberadaannya di lokasi kejadian.

    “Ada 20 pertanyaan seputar kejadian. Penyidik mempertanyakan beberapa hal terkait penganiayaan terhadap korban Darwin. Saya sampaikan faktanya bahwa dikeroyok waktu itu, meskipun sudah disampaikan bahwa korban adalah wartawan,” ucapnya.

    Dari kejadian tersebut, kata dia, tidak hanya mendapata tindakan penganiayaan kepada korban, juga jelas ada unsur penghalang-halangan jurnalis dalam memperoleh infomasi sesuai yang diatur dalam pasal 18 ayat 1 Undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

    Hal senada juga disampaikan saksi Muhammad Nur, dia dicecar 20 pertanyaan soal kejadian tersebut. Bahkan saat pemeriksaan menceritakan fakta sebenarnya atas pengeniayaan dan pengeroyokan terhadap korban Darwin

    “Saya menjelaskan apa adanya dan fakta kejadian, saat itu melihat korban dikeroyok dipukul oleh oknum berseragam polisi, dan berusaha merelai bahwa itu wartawan. Namun, tetap mendapat kekerasan,” ujarnya.

    Sebelumnya, 3 Jurnalis mendapat kekerasan aparat keamanan saat pembubaran massa aksi yang menolak sejumlah kebijakan yakni revisi Undang-undang KPK, Rancangan Undang-undang KUHP, RUU Pertanahan serta RUU Pemasyarakatan dan sejumlah lainya yang tidak pro terhadap rakyat.

    Ke-3 jurnalis tersebut masing-masing M Darwin Fatir dari LKBN Kantor Berita Antara, Isak Pasabuan dari makassar today.com dan M Saiful dari inikata.com. Kejadian tersebut terjadi pada 24 September 2019 sekitar pukul 16.00 WITA.

    Korban M Darwin Fatir sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan akibat pengeroyokan oknum aparat keamanan karena mengalami luka bocor di bagian kepala kiri belakang, tangan lebam hingga mengalami sakit di sekujur badannya akibat pukulan dan tendangan dari oknum di depan kantor DPRD Sulsel.

    Sementara M Saiful mengalami luka serius pada bagian pipi atas berdekatan dengan mata kirinya diduga terkena pentungan oknum aparat keamanan saat itu berada di sekitaran bawah jembatan layang atau Fly Over jalan Urip Sumoharjo, Makassar.

    Sedangkan Isak Pasabuan mengalami pemukulan dan mendapat perlakuan kasar hingga dihalang-halangi saat mengambil gambar ketika aparat melakukan dan dugaan kekerasan terhadap mahasiswa di pos security showroom Motor Hyundai jalan Urip Sumoharjo. (***)