Prof Sangkot: Tokoh-Tokoh Unhas Adalah Pendiri Yayasan Wallacea

Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan British Council menggelar Bincang-Bincang yang merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan Wallacea Week 2019 di Auditorium Prof. Amiruddin Fakultas Kedokteran Unhas.

Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan British Council menggelar Bincang-Bincang yang merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan Wallacea Week 2019 di Auditorium Prof. Amiruddin Fakultas Kedokteran Unhas.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan British Council menggelar Bincang-Bincang yang merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan Wallacea Week 2019.

Kegiatan yang dihelat di Auditorium Prof. Amiruddin Fakultas Kedokteran Unhas pada Rabu (27/11) dimulai pada pukul 10.30 WITA. Rangkaian kegiatan Wallacea Week 2019 kali ini mengangkat tema “Merawat Wallacea, Merawat Indonesia”.

Kegiatan ini dihadiri oleh H.E Owen Jenkins (Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste), Dr. Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), Paul Smith OBE (Direktur British Council Indonesia), dan Prof. Sangkot Marzuki (Dewan Pengurus Yayasan Wallacea, Ketua AIPI 2008-2018).

Bincang-bincang terbagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama tentang Pangan – Sandang – Papan dengan pembicara Helianti Hilman (Founder dan Ketua Javara), Dinny Jusuf (CEO dan Founder Torajamelo), dan Anneke Prasyanti (Tenaga Ahli, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif).

Sesi kedua terkait Upaya Konservasi yang diisi oleh Sheherazade (Wildlife Conservation Society), Rudi Putra (National Geographic Fellow), dan Dr. Berru Juliandi (Dosen IPB, Sekjen ALMI).

Sedang untuk sesi Jalan-jalan, diisi oleh narasumber Riri Riza (Sutradara dan Penulis Skenario), Dicky Senda (Pendiri Komunitas Lakoat Kujawas), Aris Prasetyo (Jurnalis Kompas, Ekspedisi Wallacea), dan Luki Aulia (Jurnalis Kompas, Ekspedisi Wallacea).

Direktur British Council, Paul Smith, dalam sambutannya mengatakan, bahwa program ini bertujuan untuk membawa Wallacea ke generasi muda di Makassar. Wallacea menjadi tempat hidupnya beragam flora dan fauna yang perlu diperkenalkan kepada kaum muda. Keberagaman ini ada agar bisa dihargai.

Beliau berharap berharap para peserta yang hadir bisa mendapatkan sesuatu yang menginspirasi. “ Wallacea memang merupakan orang Inggris, tetapi sebetulnya Wallacea adalah milik Indonesia,” ungkap Smith.

Wallacea dulu berkelana, lalu di Indonesia ia menemukan banyak keberagaman, tidak hanya dari tumbuh-tumbuhan, mamalia, dan serangga, tetapi ia menemukan sesuatu yang lebih. Wallacea menemukan hal yang unik dalam masyarakat yang ditemuinya. Etnik, bahasa, suku, budaya, serta cara hidup masyarakat di Indonesia sangat sarat akan keberagaman. Keunikan yang mengagumkan dari hal itu adalah masyarakat Indonesia dapat hidup bersama dalam keberagaman.

“Sulawesi Selatan, khususnya Makassar, mendapatkan perhatian khusus dunia mengenai keberagaman. Perayaan Wallacea Week 2019 ini untuk memperingati keberagaman itu,“ tutur Smith.

Selanjutnya, Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Kemitraan, Prof. Nasrum Masi, Ph.D mengungkapkan bahwa rangkaian kegiatan Wallacea Week memberikan dampak yang besar untuk Unhas. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sangat mendukung program-program internasionalisasi Unhas, utamanya dalam program menuju Universitas Kelas Dunia.

“Kita harapkan nantinya akan ada banyak kolaborasi yang akan terjalin,” harap Prof. Nasrum.

Prof. Nasrum juga menyampaikan penghargaan kepada Yayasan Wallacea dan para panitia yang telah membawa Wallacea Week 2019 ke Unhas, dan telah bekerja keras dalam menyukseskan kegiatan ini.

Mengawali pembukaan, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Wallacea, Prof. Sangkot Marzuki, menyampaikan pidatonya. Beliau menerangkan bahwa ada beberapa pendiri Yayasan Wallacea yang merupakan orang terdekat Unhas. Mereka adalah Prof. Amiruddin dan Prof. Dr. Ing. H. BJ Habibie.

Prof. Sangkot banyak bercerita tentang BJ Habibie, bukan hanya sebagai mantan Presiden, tetapi sebagai salah satu putra terbaik Indonesia.

“30 tahun yang lalu, BJ Habibie mendirikan Yayasan Wallacea karena menyadari betapa pentingnya kawasan Wallacea,” kata Prof. Sangkot.

Sebelum menutup pidatonya, Prof. Sangkot mengajak seluruh hadirin untuk mengenang jasa BJ Habibie dengan memutar video persembahan dari AIPI untuk BJ Habibie.

Sebelum membuka Bincang-bincang secara resmi, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, H.E. Owen Jenkins, menuturkan bahwa warisan Inggris dan Indoensia dari 173 tahun yang lalu adalah mendatangkan probabilitas kerjasama yang memanfaatkan keberagaman. Tentu saja kerjasama ini dalam bidang ilmu pengetahuan.

“Wallacea sudah menjelajahi keberagaman-keberagaman ini. Beliau memilik rasa ingin tahu yang tinggi, dan mau mempelajari semua yang ditemuinya. Tidak hanya tentant flora dan fauna, tetapi juga tentang keberagaman yang terjadi di masyarakat. Hal penting dari Wallacea ini adalah untuk menjangkau berbagai keberagaman yang ada di masyarakat, sistem, dan lingkungan sosialnya,” tutur Owen.(***)