Cita Rasa Makanan Khas Indonesia ada di Belanda

Tepat Pukul 17.15 waktu Belanda atau sekira pukul 01.35 WITA (Indonesia) daya tahan tubuh makin menurun, perut mulai terasa kosong dan cuaca dingin pun semakin menyengat ke tulang-tulang.

Tepat Pukul 17.15 waktu Belanda atau sekira pukul 01.35 WITA (Indonesia) daya tahan tubuh makin menurun, perut mulai terasa kosong dan cuaca dingin pun semakin menyengat ke tulang-tulang.

BELANDA.DJOURNALIST.com – Tepat Pukul 17.15 waktu Belanda atau sekira pukul 01.35 WITA (Indonesia) daya tahan tubuh makin menurun, perut mulai terasa kosong dan cuaca dingin pun semakin menyengat ke tulang-tulang.

Kondisi cuaca berada di 3 derajat celcius membuat rombongan Nurdin Halid bersama keluarga dan kerabatnya tak kuat melawan lapar.Apalagi, Senin 30 Desember, kemarin, seharian penuh mengunjungi sejumlah tempat atau lokasi wisata bersejarah di negara yang dijuluki Kincir Angin itu.

Perut kami pun semakin keroncongan. Rombongan yang berjumlah delapan orang kemudian bergegas mencari rumah makan. Tak ayal sekitar 5 menit berjalan kaki, rombongan mendapati Rumah Makan yang bercita rasa khas ala Indonesia.

Rumah makan bercita rasa Indonesia itu bernama Srikandi. Jaraknya kurang lebih 200 meter dari tempat rombongan menginap selama di Amsterdam. Menu makanan yang disajikan di RM Srikandi beraneka ragam khas Indonesia. Mulai dari pangsit sop konro dan banyak lagi lainnya.

Uniknya, pelayan atau pramusaji di RM ini hanya berjumlah satu orang. Itupun seorang lelaki yang umurnya berkisar 50 tahun, asal Indonesia. Pengunjung sendiri, bukan hanya warga Indonesia, tetapi lebih didominasi orang-orang “bule” atau wisatawan mancanegara.

Untuk makan di sini (RM Srikandi), pengunjung harus terlebih dulu memesan tempat atau “Booking”. Jika tidak, pengunjung harus rela antrian beberapa menit untuk mendapatkan meja makan seperti yang rombongan alami.

“Biasanya harus booking atau reservasi meja dulu agar tidak ikut antrian. Biasanya pengunjung padat,” kata lelaki paruh baya itu ke Risman Pasigai dengan bahasa Indonesia. “Selamat datang Bapak Ibu, mau makan apa” sapa pelayan dengan ramah di meja makan rombongan NH.

Selain sebagai pelayanan, pria yang sudah bermukim di Amsterdam belasan tahun itu rupanya juga adalah pemilih rumah makan. Setiap harinya ia melayani puluhan orang. Tak ada karyawan ia pekerjakan. Hanya seorang diri. Mulai dari menyiapkan meja, pesanan makanan hingga proses pembayaran ia geluti sendiri.

Praktis, kegigihan dan kerja keras yang diperlihatkan sang pemilik rumah makan membuat kami hanya geleng-geleng kepala. “Hebat betul bapak ini,” gumang MRP dalam hati sesaat sebelum menyantap sup pangsit pesanannya.

Sekedar diketahui, RM Srikandi ini sudah menjadi tempat favorit NH bersama keluarga jika melakukan lawatan ke negara Kincir Angin itu.