Tokoh dan OKP Lintas Agama di Makassar Gelar Deklarasi Damai

Deklarasi Damai Pemuda dan Mahasiswa Sulsel Cinta Damai yang digelar Poros Pemuda Indonesia (PPI) di salah satu warung kopi di bilangan Jalan Boulevard, Sabtu 1 Februari 2020. Tema: Harmonisasi Antar Umat Sebagai Pilar Utama Berbangsa dan Berbangsa.

Deklarasi Damai Pemuda dan Mahasiswa Sulsel Cinta Damai yang digelar Poros Pemuda Indonesia (PPI) di salah satu warung kopi di bilangan Jalan Boulevard, Sabtu 1 Februari 2020. Tema: Harmonisasi Antar Umat Sebagai Pilar Utama Berbangsa dan Berbangsa.

MAKASSAR,DJOURNALIST.com  —  Ideologi Pancasila sebagai dasar negara sudah final. Adapun insiden-insiden yang mencoba mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa harus segera dinetralisir di tengah masyarakat.

Hal itu terungkap dalam Deklarasi Damai Pemuda dan Mahasiswa Sulsel Cinta Damai yang digelar Poros Pemuda Indonesia (PPI) di salah satu warung kopi di bilangan Jalan Boulevard, Sabtu 1 Februari 2020. Tema: Harmonisasi Antar Umat Sebagai Pilar Utama Berbangsa dan Berbangsa.

Hadir sebagai pemateri antaralain, Wakil Sekertaris Tanfiziah Nu Kota Makassar Bambang S Pratomo, Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI SulSel) Muhammad Farid, Ketua HMI Cabang Gowa Raya Ardiansyah, Gerakan Mahasiswa Kristen Republik Indonesia (GMKI) Makassar Risal Dwi Putra, Tokoh Agama DR.Abdul Wahid.MA, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Fathur, Perhimpunan Ummat Budha Indonesia Hema Jayo, serta Ketua Poros Pemuda Indonesia SulSel (PPI) Taqwa Bahar.

Tokoh Agama DR.Abdul Wahid.MA menjelaskan insiden perusakan rumah ibadah seperti yang terjadi di Kelurahan Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, merupakan sebuah kesalahpahaman dan tidak harus diperbesarkan sehingga merusak nilai kesatuan dan persatuan bangsa.

“Saya rasa kejadian di Minahasa Utara sudah menjadi menu diskusi di berbagai tempat. Untuk itu diperlukan konsensus yang meredam atau memberikan solusi supaya keragaman ini terus terjaga. Seperti yang dilakukan Poros Pemuda Indonesia selama ini sebagai garda terdepan menjaga keberagaman,” terang Abdul Wahid.

Apalagi, Abdul Wahid melihat salah satu pemicu terjadinya perusakan rumah ibadah tersebut adalah kesalahpahaman. Untuk itu, dia mengajak kepada seluruh pihak agar tidak terlalu berlebihan merespon apalagi dengan mengeluarkan statement yang bisa merusak bangsa.

“Kita tidak perlu reaktif, apalagi kalau tidak tau masalah. Mari kita dudukkan persoalan ini secara objektif dan proporsional. Apalagi ini negara hukum, ayo kita serahkan ke pihak berwajib untuk menyelesaikan,” terang Abdul Wahid.

“Kita tidak rela hanya karena kasus yang tidak diketahui penyebabnya sehingga kita terpecah. Kita harus berkontribusi mengawal bangsa ini,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Sekertaris Tanfiziah Nahdlatul ‘Ulama Kota Makassar Bambang Sampurno Pratomo menegaskan apapun peristiwa yang bisa menggangu keutuhan negara sangat penting untuk senantiasa dinetralisir di masyarakat. Seluruh pihak harus memberikan pencerahan.

“Ada pihak tertentu yang ingin mengganggu harmonisasi bangsa ini melalui kejadian di Minahasa Utara. Ini harus segera dinetralisir agar tidak memperlebar kesalahpahaman,” sebutnya.

Bambang menyatakan berdasarkan pemahaman Islam, bangsa ini terilhami dalam Al Qur’an. Dimana Allah SWT ingin menjadikan ummat Islam di negara ini tetap berada di tengah-tengah.

“Bagi NU itu kesatuan berbangsa dan bernegara adalah sudah final. Tidak boleh ada paham atau ideologi luar masuk ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” tegasnya.

Adapun perwakilan Gerakan Mahasiswa Kristen Republik Indonesia (GMKI) Makassar Risal Dwi Sapoetra, merasa sangat terhormat diundang dalam forum deklarasi damai yang digelar Poros Pemuda Indonesia (PPI). “Kehadiran kita dalam hari ini punya semangat dan visi yang sama dalam merawat kebhinekaan,” jelasnya.

Soal insiden di Minahasa Utara, lanjut Risal, GMKI juga sangat sedih atas kejadian tersebut.”Kami sudah berkoordinasi dengan orang di sana (Minahasa Utara) rupanya sudah diamankan dan ditangani pihak berwajib,” katanya.

Menurut Risal, Pancasila sebagai dasar filsafat negara serta filsafat hidup bangsa Indonesia, pada hakekatnya merupakan suatu nilai dasar yang bersifat fundamental, sistematis, dan holistik. Sila per sila yang tersusun adalah satu kesatuan yang bulat, utuh, dan hirarkis, sehingga dapat diartikan sebagai suatu sistem filsafat.

Didasar pemikiran filosofis yang terkandung dalam setiap sila bahwa Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara mengandung arti dalam setiap aspek kehidupan kebangsaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan yang berdasarkan kepada nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan.

“Negara ini merupakan filosofi Pancasila. Tinggal bagaimana menjaga Pancasila ini. Menjaga keutuhan negara ini,” tutupnya.